About

Jul 12, 2011

Halal Pumpkin Seeds

A : Eh...eh...aku dikasih tahu teman lokalku kalau kuaci dan biji-biji labu yang dijual di Taiwan itu ga halal lho. *gosip mode : on*
B : HAH? Pegimane ceritanye (n)tuh ga halal? Biji-bijian kan bahan nabati gitu loh.
A : Iya, soalnya kata temanku itu, kuaci dan biji-biji labunya direndam di suspensi yang mengandung tulang/kolagen babi.
B : Z.O.M.G...giling ya orang Taiwan itu. Semua-mua di-babi-in %$#@

Pernah mendengar percakapan serupa? Ya, beberapa saat yang lalu, di situs jejaring sosial "buku muka" milik salah seorang warga FORMMIT, sempat heboh membahas isu tersebut. Walaupun agak sangsi, Tainan Halal yang penasaran akhirnya melakukan pengecekan langsung ke lapangan. Ternyata, di kemasan produk-produk biji-bijian semacam biji matahari (kuaci) maupun biji labu memang tercantum satu komposisi yang mencurigakan, -nukleotida. Protein yang merupakan penyusun DNA dan RNA ini memang tidak jelas turunan dari hewan atau tumbuhan. Setelah mencoba menanyakan ke otoritas setempat pun, Tainan Halal terpaksa gigit jari karena tidak mendapatkan respon *meringis*. Kalau sudah begini, ya berarti solusi teraman adalah menghindari produk tersebut. Toh masih banyak produk-produk makanan halal lain yang dapat dikonsumsi di sini.

Namun, tak disangka tak dinyana, beberapa saat yang lalu saat menyisiri rak-rak supermarket langganan, Tainan Halal menemukan produk biji labu yang halal. WOW...subhanallah^^. Logo halal keluaran Taichung Mosque sudah mejeng dengan cantiknya di kemasan produk buatan Bean's Family ini. Harganya ? Nah, inilah yang paling membuat mahasiswa berpikir ratusan kali sebelum membelinya. NT$175. *Ouch. Well, tapi kalau dilihat-lihat, produk ini memang uber-memanjakan konsumen karena benar-benar praktis, -ga pake ngupas-ngupas, ga pake lama, ga pake suspensi tulang babi :D. Silakan saja membelinya jika Anda siap "dirampok" sebanyak NT$175. Yang pasti, produk ini halal. Semoga bermanfaat. [TH/BP]

Spotted at Carrefour

Jul 11, 2011

Wasabi Halal

Wasabi? Apaan tuh? Yang warna ijo dan pedes2 kaya' odol itu bukan? Ding dong...seratus^^! 


Wasabi yang sangat populer di perkulineran negeri matahari terbit ini memang sering dijadikan "cocolan" layaknya sambal untuk sushi atau sashimi. Tapi jangan salah, bumbu ini memiliki komponen pedas yang jauh berbeda dari cabai. Alih-alih mengandung komponen capsaicin yang memiliki "target sengatan" di lidah, komponen wasabi yang bertanggung jawab atas kepedasannya (allyl isothiocyanate) lebih nampol di daerah hidung. Jika diulik-ulik dari sisi klasifikasi tanaman, Wasabia Japonica memang tidak sekeluarga dengan cabai yang merupakan family Solanaceae, namun masuk ke keluarga Brassicaceae bersama dengan kol, moster (mustard) dan horseradish.

Umumnya wasabi dijual dalam bentuk umbi yang sudah diparut atau pasta-langsung-konsumsi. Mengingat dalam waktu 15 menit saja aroma (flavor) wasabi dapat hilang dan menguap, bumbu ini sering disajikan benar-benar sesaat sebelum dikonsumsi. Fakta penting tentang wasabi (= shānkuí; 山葵) adalah wasabi asli sangat sulit dipanen sehingga harganya relatif mahal, yaitu sekitar Rp. 700.000,- sampai Rp. 1.000.000,- per pon. Jadi, wasabi komersial sering menggunakan bahan alternatif yang lebih murah yang merupakan campuran horseradish, moster dan pewarna makanan (hijau).

Nah, beberapa saat yang lalu, ketika sedang berbelanja di pasar tradisional, Tainan Halal menemukan wasabi dalam bentuk bubuk yang ternyata di kemasannya mencantumkan logo halal dari Taichung Mosque. Satu kemasan wasabi powder berberat bersih 300 gram ini dihargai NT$65. Cukup untuk stok berbulan-bulan :). Semoga bermanfaat. [TH/BP]

Spotted at nearby traditional market